Gubernur Maluku dan Wali Kota Ambon Hadiri Festival Pawai Ogoh-Ogoh, Tegaskan Semangat Toleransi di Kota Ambon

Berita, Pemkot Ambon292 Dilihat

ARB.COM, – Suasana meriah dan penuh warna menyelimuti kawasan depan Gong Perdamaian, Kota Ambon, Rabu 18 Maret 2026. Ribuan warga memadati lokasi untuk menyaksikan _Festival Pawai Ogoh-Ogoh_ dalam rangka perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1948/2026 Masehi.

Hadir dalam acara tersebut Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa bersama Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena. Turut hadir Ketua DPRD Kota Ambon Mourits Tamaela, Dandim 1504 Ambon Letkol Inf. Hari Sandra, Wakapolresta Ambon AKBP Nur Rahman, S.I.K., M.M., Kadis Pariwisata dan Budaya Kota Ambon Christian Tukloy, Ketua PHDI Kota Ambon, serta sejumlah tokoh lintas agama lainnya.

Ogoh-Ogoh: Simbol Pembersihan Diri dan Kota

Festival pawai ogoh-ogoh merupakan tradisi umat Hindu menjelang Hari Raya Nyepi. Patung ogoh-ogoh yang melambangkan sifat-sifat buruk manusia diarak keliling kota sebagai simbol pembersihan diri dan lingkungan sebelum memasuki hari Nyepi yang penuh kesunyian dan refleksi diri.

Tahun ini, pawai ogoh-ogoh di Ambon berlangsung meriah dengan iringan gamelan Bali, tarian tradisional, dan atraksi budaya dari komunitas Hindu di Maluku. Berbagai ornamen dan kreasi ogoh-ogoh ditampilkan, mulai dari bentuk raksasa Bhuta Kala hingga simbol-simbol yang merepresentasikan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran.

Ketua PHDI Kota Ambon menyampaikan bahwa perayaan Nyepi bukan hanya milik umat Hindu, tetapi menjadi milik seluruh masyarakat Ambon yang menjunjung tinggi toleransi dan kebersamaan.

“Nyepi mengajarkan kita untuk menahan diri, merenung, dan membersihkan diri dari hal-hal negatif. Kami bersyukur, pemerintah dan masyarakat Ambon selalu mendukung perayaan ini dengan semangat kebersamaan,” ujarnya.

Gubernur dan Wali Kota: Ambon Jadi Contoh Toleransi Nyata

Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa dalam sambutannya mengapresiasi terselenggaranya festival pawai ogoh-ogoh yang berlangsung tertib dan meriah. Ia menegaskan bahwa perayaan ini menjadi bukti nyata bahwa Maluku, khususnya Kota Ambon, adalah daerah yang menjunjung tinggi kerukunan antar umat beragama.

“Ambon telah menunjukkan kepada Indonesia bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan. Hari ini kita melihat umat Hindu merayakan Nyepi dengan meriah, dan saudara-saudara dari agama lain hadir memberi dukungan. Inilah Maluku yang sesungguhnya,” ujar Hendrik.

Hal senada disampaikan Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena. Ia menyebut perayaan Nyepi dan pawai ogoh-ogoh sebagai bagian dari kekayaan budaya dan spiritual yang memperkaya wajah Kota Ambon.

“Pemerintah Kota Ambon berkomitmen menjaga ruang-ruang keberagaman ini. Kami ingin Ambon terus menjadi kota yang aman, damai, dan ramah bagi semua agama dan budaya,” ujar Bodewin.

Forkopimda dan Tokoh Lintas Agama Kompak Hadir

Kehadiran Ketua DPRD Kota Ambon Mourits Tamaela, Dandim 1504 Ambon Letkol Inf. Hari Sandra, Wakapolresta Ambon AKBP Nur Rahman, serta Kadis Pariwisata dan Budaya Christian Tukloy menunjukkan soliditas Forkopimda dalam mendukung kegiatan keagamaan dan budaya masyarakat.

Tokoh lintas agama yang hadir juga menyampaikan pesan damai dan mengapresiasi semangat toleransi yang terus hidup di Kota Ambon. Mereka menilai, perayaan Nyepi yang terbuka untuk semua kalangan adalah cerminan nyata bahwa Ambon adalah rumah bersama.

Kadis Pariwisata dan Budaya Kota Ambon Christian Tukloy menambahkan bahwa festival ogoh-ogoh ini juga menjadi daya tarik wisata budaya yang memperkaya kalender event Kota Ambon.

“Perayaan seperti ini bukan hanya penting secara spiritual, tetapi juga menjadi aset budaya yang bisa memperkenalkan Ambon ke kancah nasional bahkan internasional,” ujarnya.

Pawai Meriah, Pesan Damai Menggema

Pawai ogoh-ogoh berlangsung sepanjang jalur depan Gong Perdamaian hingga kembali ke lokasi start. Ribuan warga dari berbagai latar belakang agama dan suku ikut menyaksikan dengan tertib. Sorak sorai dan tepuk tangan mengiringi setiap penampilan peserta pawai.

Setelah pawai selesai, umat Hindu akan melanjutkan rangkaian perayaan dengan upacara Tawur Kesanga dan dilanjutkan dengan Hari Raya Nyepi yang diperingati dengan catur brata penyepian: amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan.

Ambon, Rumah Bersama untuk Semua

Festival pawai ogoh-ogoh tahun ini sekali lagi menegaskan bahwa Ambon adalah kota toleransi yang hidup dalam keberagaman. Kehadiran Gubernur, Wali Kota, Forkopimda, dan tokoh lintas agama dalam satu acara menjadi simbol kuat bahwa perbedaan adalah kekuatan, bukan pemisah.

“Selamat merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1948 bagi seluruh umat Hindu di Maluku. Mari kita jadikan momentum ini untuk saling menghormati, menjaga kedamaian, dan membangun Ambon yang lebih baik bersama-sama,” tutup Wali Kota Bodewin.

Dengan semangat toleransi dan kebersamaan, Ambon terus melangkah sebagai contoh nyata hidup rukun di tengah keberagaman Indonesia. *(

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *