ARB.COM, – Gedung Gereja Silo dipenuhi ratusan peserta pada Minggu 8 Februari 2026. Persidangan Jemaat GPM Silo ke-44 Tahun 2026 resmi dibuka oleh Pdt. S.D. Kesaulya dengan tema besar *”Anugerah Allah Melengkapi dan Meneguhkan Gereja Menuju Satu Abad”*.
Kehadiran Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena menambah semangat persidangan. Dalam sambutannya, ia mengajak jemaat GPM Silo untuk tidak hanya menjadi saksi iman, tetapi juga mitra nyata pemerintah dalam menjawab tantangan pembangunan kota.
Di tengah kondisi fiskal yang mengetat, Bodewin menyampaikan kabar berat: Pemerintah Kota Ambon menghadapi pemotongan anggaran daerah sebesar Rp162 miliar. Angka ini dipastikan akan berdampak luas pada berbagai program pelayanan masyarakat.
“Kita tidak bisa menutup mata. Pemotongan Rp162 miliar ini nyata dan akan dirasakan masyarakat. Tapi justru di titik ini, kekuatan kolektif antara gereja dan pemerintah harus dihidupkan,” ujar Bodewin di hadapan 205 peserta sidang.
Ia menegaskan, persidangan jemaat adalah forum strategis untuk menyatukan energi. Wali Kota mengusulkan tiga bidang yang bisa digarap bersama sebagai jawaban konkret atas keterbatasan anggaran:
*1. Ketahanan Pangan*
Gereja dan jemaat didorong mengoptimalkan lahan yang ada untuk kegiatan pertanian produktif. Tujuannya memperkuat ketersediaan pangan lokal dan mengurangi ketergantungan.
*2. Pengelolaan Lingkungan dan Sampah*
Jemaat diajak menjadi motor penggerak dalam menjaga kebersihan dan mengelola sampah dari tingkat komunitas. Langkah kecil di lingkungan gereja bisa memberi dampak besar bagi kota.
*3. Keamanan dan Ketertiban*
Gereja diminta berperan aktif menjaga stabilitas sosial, menciptakan rasa aman, dan menjadi penyejuk di tengah dinamika masyarakat.
“Kalau kita bekerja sendiri, berat. Tapi kalau gereja, pemerintah, dan masyarakat bergerak bersama, saya yakin Ambon bisa melewati ini dengan lebih kuat,” tegasnya.
Pdt. S.D. Kesaulya selaku pimpinan sidang menyambut baik ajakan tersebut. Ia menilai tema persidangan tahun ini sangat relevan dengan kondisi Kota Ambon saat ini.
“Anugerah Allah memanggil kita untuk tidak diam. Gereja harus hadir melengkapi dan meneguhkan masyarakat. Kami siap bersinergi dengan pemerintah untuk kepentingan bersama,” ujar Pdt. Kesaulya.
Persidangan berlangsung dinamis. Para peserta membahas program kerja jemaat yang diarahkan pada pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan kepedulian lingkungan. Suasana dialogis menunjukkan bahwa gereja siap menjadi bagian dari solusi.
Bodewin berharap kolaborasi dengan GPM Silo bisa menjadi contoh bagi jemaat-jemaat lain di Ambon. Menurutnya, di masa sulit, modal sosial dan spiritual masyarakat adalah kekuatan yang tidak ternilai.
Persidangan ditutup dengan doa bersama dan komitmen untuk menjadikan GPM Silo sebagai gereja yang berdampak, relevan, dan siap menyongsong satu abad pelayanan. *(











